Mengapa jiwaku mesti bergetar
Sedang musik pun manis kudengar
Mungkin karena kulihat lagi
Lentik bulu matamu
Bibirmu dan rambutmu yang kau biarkan
Jatuh berderai di keningmu
Makin mengajakku terpana
Kau goreskan gita cinta
(Lagu Untuk Sebuah Nama, Ebiet G Ade)
Sedang musik pun manis kudengar
Mungkin karena kulihat lagi
Lentik bulu matamu
Bibirmu dan rambutmu yang kau biarkan
Jatuh berderai di keningmu
Makin mengajakku terpana
Kau goreskan gita cinta
(Lagu Untuk Sebuah Nama, Ebiet G Ade)
Nama itu agak terasa asing di telinga saya Camellia Azizah. Aku kurang paham artinya, tapi mendengar nama itu, pasti dia bukan berasal dari
kampungku
Ia baru beberapa bulan pindah dari Jakarta ke Purwokerto.
Orang tuanya seorang pejabat bank, yang baru pindah ke kota ini. Wajahnya
bening sebagaimana umumnya orang berada. Bedanya, ia tetap tampil sederhana.
Aku yang biasa kurang begitu dekat dengan gadis cantik, dan keluarga kaya,
menjadi kurang menghiraukan kehadiran siswa baru di kelas ini. Sudah jelas,
seperti itulah aku
Ah tapi kadang akuberpikir, mungkin saja saya akan
mengalami seperti cerita novel atau film. Cerita pertemuan lelaki biasa dari
keluarga biasa dengan gadis cantik orang kaya. “Hahahaha itu cerita novel,
bukan kenyataan,”batinku menghibur.
“ Bram, bisa nggak saya minta tolong,” suara seorang gadis
mengagetkanku ketika jam istirahat
dimana saya tidak keluar ruangan. Oo ternyata Lia.










